Rabu, 29 Februari 2012

perjuangan bapak penjual koran

saya bener-bener pingin banget bikin blog ini .
detik ini .
saat saya meneteskan air mata .
saat rasa lapar saya nggak berasa .
dan saat soto ayam di depan meja saya tidak lagi membuat saya berselera .

saya ,putri indratamimi 22 th
seorang karyawan swasta .
yang kerjanya dari pagi hingga malam hari .

tapi saya selalu mengeluh tentang "capai"
padahal perusahaan saya sudah baik hati meminjamkan B 1**2 SOI pada saya
saya nggak perlu kepanasan .
saya nggak perlu kehujanan .
saya pakai seragam garis-garis bermerek yang saya punya banyak di rumah .

nggak seperti beliau .
seorang bapak-bapak yang saya selalu temui pagi dan malam hari .
usianya sekita 70an
mungkin kalau kakek saya masih ada .kakek saya seumuran beliau

saat berangkat kerja ,
bapak itu sudah siap dengan duduk di kursi .
di bawah lampu merah perempatan kota yang tidak seberapa ramai .
duduk sambil membawa tumpukan koran .
dan saat lampu merah menyala .
mungkin anda berpikir ,bahwa dia akan berjalan menjajakan korannya .
tidak !
dia tiba-tiba tertidur kelelahan .
ada sepeda pancal yang saya pikir itu pasti punya dia .

saat saya pulang kerja ,
malam ini .
beliau masih membawa koran yang masih bersisa .
siapa yang mau membaca koran yang sudah mau udzur di malam hari ?
saya memanggil si bapak .
dan menanyakan berapa harga koran tersebut .
beliau berkata "empat ribu"
lalu saya memberikan yang lebih 25x harga tersebut .

saya dan beliau saling berterima kasih

lalu saya berlalu sambil menekan pedal gas
tiba-tiba saya menitikan air mata .


satu hal yang saya pikirkan .
saya tidak perlu duduk di pinggir jalan .
di jalan yang sama seharian .
menjajakan koran yang life time-nya sangat limit .
saya nggak perlu kena asap knalpot
saya nggak perlu berjalan mengayuh sepeda .

tapi saya baru sadar ,
bahwa saya hanya perlu bersyukur
:')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar